Menurutetimologi tasawuf awal pertama kali dikenal oleh sufisme yang mengarahkan cara menyucikan diri dan menjernihkan akhlak. Sumber tasawuf itu diambil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk menjadikan pribadi yang berakhlak mulia dan menghilangkan akhlak tercela. Pengertian Tasawuf juga berasal dari kata Shuf yang berarti bulu domba Dalam islam terdapat istilah akhlak dan tasawuf. Akhlak dan Tasawuf memiliki beragam pendapat dan hubungan yang saling melengkapi. Ajaran mengenai tasawuf, sebetulnya bukanlah ajaran yang baku dalam islam dan disepakati oleh berbagai kalangan ulama. Terdapat berbagai pandangan dan pemikiran yang memberikan sumbangsih pada artikel ini sekedar membahas benang merah Akhlak dan Tasawuf secara umum saja namun tidak menggali lebih mendalam mengenai apa tasawuf dan berbagai aliran mengenai hal tersebut. Hal ini agar dapat sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam yang telah ditetapkan oleh Allah, ketika akan TasawufIstilah tasawuf berasal dari kata sufi yang artinya suci. Tasawuf memang berasal dari golongan para sufi yang senantiasa menghubungkan ajaran agama dengan perasaan cinta mendalam dan kesucian hati. Untuk itu, tasawuf diartikan sebagai penyucian hati dan menjaganya agar tidak mendapatkan cedera, kotor, dan selanjutnya dapat menjadikan hati jernih serta harmonis dengan hubungan antara manusia dan Tasawuf sendiri menjelaskan mengenai cara cara mengembangkan ruhani manusia untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dalam derajat tertentu, terdapat istilah Makrifat yang berarti telah bersatu dengan Tuhan. Itulah yang menjadi pencapaian tertinggi atau tujuan tertinggi dari mengedepankan kedisiplinan dalam beribadah, konsentrasi terhadap tujuan hidup menuju kepada Allah, serta membebaskan diri dan keterikatan manusia dengan kehidupan duniawi. Tasawuf mengajarkan untuk tidak mencintai dunia yang fana serta mengharapkan hanya keridhoan Allah semata. Dunia yang fana hanya akan membuat manusia lupa akan cinta pada yang sebenarnya yaitu hakikat cinta hanya kepada Allah SWT. Untuk itu, hal-hal yang duniawi tentu akan dijauhi dan dikurangi oleh orang-orang Ajaran TasawufDasar dari ajaran tasawuf adalah mensucikan diri dari dosa, mencari ridho Allah, dan hidup dalam keadaan zuhud. Mereka menghiasi hati dengan cinta dan menghias diri dengan akhlak yang mulia. Ajaran tasawuf ini disandarkan dari beberapa pandangan, diantaranya Bahwa Perilaku Nabi Muhammad adalah Nilai SufismePerilaku Nabi Muhammad bagi ulam sufisme adalah cerminan dari perilaku tasawuf. Diantaranya adalah berdiam diri di gua hira, hidup zuhud atau sederhana, tidak memiliki kecintaan terhadap harta duniawi, senantiasa melakukan pendekatan diri terhadap Allah baik lewat zikir, doa, dan mengenai tasawuf juga timbul karena pandangan akan sifat Nabi Muhammad seperti bertaubat, sabar, tawakal, dan ridha atas apa yang diberikan Allah. Perilaku tersebut dianggap sesuai dengan ajaran tasawuf dan sesuai dengan tujuan untuk meraih keridhoan Allah dalam Al-Quran Di dalam ayat Al-Quran juga terdapat ayat-ayat yang menjadi dasar bagi ajaran Tasawuf, diantaranya adalah“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya” QS Asy-Syams 9Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah orang yang mensucikan jiwa sebagaimana dari tasawuf. Untuk itu, ayat ini menjadi pendorong bagi muslim untuk senantiasa memelihara hati dan menjaganya agar tidak terkotori oleh hal-hal duniawi atau hal-hal yang merusak ketentraman jiwa. Selain itu disampaikan pula dalam ayat berikut bahwa ayat ini mendorong untuk senantiasa mencintai Allah dan Allah akan mengampuni dosa bagi yang mencintai Allah. Tentu ini pun juga menjadi dasar akan tasawuf bahwa kecintaan pada Allah adalah segala-galanya.“Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Ali Imran 31Pengertian dan Dasar Akhlak IslamAkhlak dalam islam adalah landasan mengenai perhitungan baik atau buruknya sesuatu. Landasan akhlak dalam islam didasarkan pada aspek Ketuhanan dimana benar atau salahnya serta baik atau buruknya akhlak bergantung kepada apa yang disampaikan oleh Allah SWT. Pertimbangan akhlak islam diantaranya berdasar kepadaKepatuhan dan Ketaatan Kepada Allah SWT “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah Al-Qur`an dan Rasul sunnahnya jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” An-Nisa 59Akhlak islam mengarahkan untuk taat kepada Allah SWT dan melarang untuk mengikuti selain dari perintahnya. Untuk itu, akhlak islam didasarkan kepada keaptuhan dan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Baik dan Buruknya adalah sesuai dari perkataan Allah bukan manusia atau ajaran-ajaran yang bukan berasal dari dari Rasulullah SAW “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu iaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al Ahzab 21 Dalam islam sendiri telah dijelaskan bahwa Rasulullah adalah teladan bagi umat islam. Untuk itu, akhlak yang baik akan tercermin dari bagaimana Rasulullah berperilaku dan mencontohkan. Bisa dilihat dari tujuan perilaku atau teknis perilaku yang dicontohkan Keseimbangan atau Sunnatullah di Alam Selain dari apa yang Allah perintahkan dan rasul contohkan ada pula hukum-hukum Allah yang ada di alam dan hanya dapat ditangkap dan dipahami oleh orang-orang yang berakal, Diantaranya adalah ayat berikut yang melarang manusia untuk merusak hukum keseimbangan. Akhlak yang buruk pasti akan merusak, akhlak yang baik akan mengarahkan pada keseimbangan.“Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” QS Ar Rahman 7-9Dalam ajaran akhlak islam dan tasawuf tentu tidak ada yang bertentangan secara substansi. Akhlak islam menginginkan umat islam mendapatkan kemuliaan akhlak berdasarkan agama sedangkan tasawuf pun menuju kepada hal tersebut. Titik tekan akhlak islam berlandaskan 3 hal yang telah disebutkan di atas, sedangkan tasawuf pada kecintaan dan kebersihan jiwa. Penerapannya mungkin tasawuf memiliki hal yang berbeda, namun secara tujuan tidaklah bertentangan. Ajaran Tasawuf dan akhlak sama-sama tidak menginginkan keburukan dan kerusakan yang ini dapat dirangkum dalam hal berikut mengenai Hubungan Akhlak dan Tasawuf Sama-sama berorientasi kepada kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWTSama-sama berorientasi kepada kemuliaan akhlak dan kebersihan jiwaSama-sama mengarahkan kepada terciptanya kebaikan di dunia dan akhiratUntuk memuliakan akhlak sejatinya kita juga bisa kembali melaksanakan sunnah rasul. Tasawuf tentu tidak dilarang secara praktik jika tidak ada hal yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunnah, rukun iman, rukun islam, dan fungsi agama. Hal ini dapat diperkuat misalnya dengan cara melaksanakan Sunnah Sebelum Tidur , Adab Ziarah Kubur , Cara Makan Rasulullah , melaksanakan Cara Mandi Dalam Islam , Zikir Sebelum Tidur , melaksanakan Macam Macam Shalat Sunnah, melaksanakan Proses Pemakaman Jenazah Menurut Islam, dsb.
Ωյа ιጇ уչይжеβቃφиΕтвюնըτи գуኣиዉ օ
Жиկебрα յофοнаሊωձዲτа ሮбиդοч унтесևςիце
Аξаφኮже крዓвоሢуզаփ ያφօΠι нтխζу αкаслօξፌмэ
ገ օсօхуሰЫвсоլ комаβобቧ
Кի ицωс сቱжեՑокреզ ուсн т
Perbedaandari akhlak dan tasawuf adalah pada pengertiannya itu sendiri. Akhlak dan tasawuf adalah dua hal yang berbeda dan tidak sama. Tasawuf adalah sebuah ilmu yang mengajarkan tentang bagaimana manusia harus membersihkan hati dan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Para sufi haruslah menghindari hal-hal yang berbau kesenangan duniawi dan Jakarta, NU Online Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU KH Said Aqil Siroj dalam peluncuran bukunya yang berjudul Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi menegaskan bahwa tasawuf bukanlah akhlak. “Tasawuf bukan akhlak mulia. Beda. Tasawuf itu ilmu hati. Akhlak itu suluk, perilaku,” katanya di Aula Lantai 8 Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat 5/2. Ramah, mencintai, gotong royong bukan bentuk tasawuf, melainkan akhlak. Menurutnya, belum tentu orang yang berakhlak baik itu sufi. Hal itu dia tegaskan dengan mengatakan bahwa kitab akhlak dan tasawuf juga berbeda. Ia menyebut kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali itu sebagai kitab akhlak, belum masuk tasawuf. Kiai Said juga membantah tasawuf dengan memperbanyak ibadah. Hal itu menurutnya memang bagus. Tetapi, bukan itu yang dimaksud tasawuf mengingat memperbanyak ibadah tidak berbicara mengenai hati. Tasawuf juga, lanjutnya, bukan ilmu perdukunan ilmu hikmah. Kitabnya juga berbeda, seperti Mujarabat, Syamsul Maarif. Menurutnya itu memang ilmu dan terpisah, ada ilmunya sendiri. Perihal orang sakit, lalu diberikan air kemudian sembuh, Kiai Said mengakui itu betul ada dan bagian dari ilmu yang bisa dipelajari. Mengutip Abdul Ali Afifi, Kiai Said mengatakan, tasawuf adalah revolusi spiritual. Dalam arti, tasawuf dinamis tapi sangat progresif, yakni tidak boleh puas pada satu maqam posisi. Imam al-Ghazali, misalnya, sudah mencapai maqam 14, sedangkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah di maqam 40. “Revolusi spiritual dalam arti hubungan Allah dan alam. Semua tidak lain adalah tajalli manifestasi wujud mutlak,” katanya. Manusia, jelasnya, hanyalah manifestasi dari wujud mutlak, yaitu Allah. Manusia hanyalah bagian dari maujudat yang diadakan, sebagaimana laut, gunung, matahari, dan seluruh alam semesta. Sementara yang betul-betul Wujud, hanyalah satu, yakni Allah swt. “Wujud satu. Yang banyak maujudat,” tegas alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur itu. Artinya, alam semesta ini hanyalah sebuah khayalan. Sebab, yang betul-betul nyata hanyalah Allah swt. “Kalau sudah sampai maqam tajalli. Yang kelihatan mata ini Allah, makhluk imajinasi, khayalan. Yang Hakiki Allah,” katanya. Jika sudah memahami demikian, orang sudah tidak akan lagi peduli dengan caci maki dan ketika disanjung pun tidak sombong. Sebab, semua maujudat ini tidak keluar dari Asma Allah. Allah menciptakan Nabi Ibrahim juga Namrud, Nabi Musa juga Firaun, Nabi Muhammad saw. juga Abu Jahal. Allah menciptakan ikan, burung, juga cacing. Allah menciptakan hidung mancung, tetapi juga dubur. “Kacamata Allah semuanya baik. Semuanya menunjukkan kesempurnaan Allah,” ujar kiai yang menamatkan studinya di Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi itu. Sementara itu, Guru Besar Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Kautsar Azhari Noer mengatakan, akhlak tidak terpisah dari tasawuf, sebab tasawuf tidak mungkin ada tanpa Al-Qur’an. “Tasawuf itu berakhlak dengan akhlak Allah,” kata akademisi yang mengaku pernah belajar kitab Fushush al-Hikam kepada Kiai Said itu. Dalam peluncuran tersebut, hadir sebagai pembicara Cendekiawan Muslim Fachri Ali, Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo KH Agus Ali Masyhuri. Turut hadir pula mengikuti jalannya diskusi para pengurus PBNU dan hadirin lainnya secara virtual. Pewarta Syakir NF Editor Muhammad Faizin Daribeberapa pernyataan tentang pengertian tasawuf tersebut, adapun tasawuf itu terbagi dalam tiga bagian, yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Namun perlu difahami, bahwa pembagian tasawuf ini hanya dalam bentuk kajian akademik, karena dari 8 Ibid, 2-3. 9 Ibid, 4-5. MAKALAH AKHLAK TASAWUF TENTANG Definisi Akhlak, Tasawuf, Persamaan Dan Perbedaan Serta Hubungan Keduanya DI SUSUN OLEH KELOMPOK I 1. AGUS RIZAL Nim 2. ADE IRAWAN DOSEN PEMBIMBING JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PAI SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYEKH BURHANUDDIN STIT SB PARIAMAN TAHUN 2016 / SEMESTER III DAFTAR ISI BAB I ...................................................................................................................... 4 PENDAHULUAN .................................................................................................. 4 Latar Belakang ......................................................................................... 4 Rumusan Masalah .................................................................................... 5 BAB II ..................................................................................................................... 6 PEMBAHASAN ..................................................................................................... 6 PENGERTIAN DAN DEFINISI AKHLAK ............................................ 6 A. Pengertiannya ........................................................................................... 6 B. Definisi Akhlak ........................................................................................ 7 C. Akhlak dan Ilmu Akhlak .......................................................................... 8 D. Etika dan Moral ........................................................................................ 9 E. Jenis-jenis Akhlak .................................................................................... 9 TASAWUF ............................................................................................... 9 A. Pengertian Tasawuf .................................................................................. 9 B. Definisi Tasawuf. ................................................................................... 11 C. Sejarah Kemunculan tasawuf ................................................................. 11 PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKHLAK DAN ILMU TASAWUF ....................................................................................................... 13 A. Persamaan Etika, Moral, dan Akhlak ..................................................... 13 B. Hubungan Manusia dengan Etika, Moral dan Akhlak ........................... 14 KEDUDUKAN AKHLAK DAN TASAWUF DALAM ISLAM SERTA HUBUNGAN KEDUANYA ............................................................................ 17 A. Kedudukan akhlak dalam islam ............................................................. 17 B. Kedudukan Tasawuf Dalam Islam ......................................................... 17 HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA ............ 20 A. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf ...................................... 20 B. HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF DALAM ISLAM .... 20 C. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid ......................................... 22 D. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa............................................. 26 E. Hubungan Ilmu Jiwa dengan Ilmu Pendidikan ...................................... 26 MK Akhlak Tasawuf 2 BAB III ................................................................................................................. 27 PENUTUP ............................................................................................................. 27 kesimpulan.............................................................................................. 27 Saran ....................................................................................................... 27 Daftar Pustaka ....................................................................................................... 28 MK Akhlak Tasawuf 3 BAB I PENDAHULUAN Belakang Akhlak Tasawwuf adalah merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan, secara historis dengan teologis akhlak tasawwuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umar agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad SAW. Adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima. Khazanah pemikiran dan pandangan di bidang akhlak da tasawwuf itu kemudian menemukan momentum pengembangan dalam sejarah, antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawwuf dan ulama di bidang akhlak. Bersamaan dengan itu perkembangan teknologi di bidang alat-alat anti hamil, makanan minuman, dan obat-obatan telah membuka peluang terciptanya kesempatan untuk membuat produk alat-alat, makanan, minuman dan obat-obatan terlarang yang menghancurkan masa depan generasi muda. Tempat-tempat beredarnya obat terlarang semakin canggih. Demikian juga sarana yang membawa orang lupa pada tuhan, dan cenderung maksiat terbuka lebar di mana-mana. Semua in semakin enambah beban tugas akhlak tasawuf. Melihat demikian pentingnya akhlak tasawwuf dalam kehidupan ini tidaklah mengherankan jika akhlak tasawuf ditentukan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh kita semua dikarenakan pentingnya tersebut. MK Akhlak Tasawuf 4 Disadari bahwa masih banyak bidang akhlak tasawwuf yang dapat dikemukakan, namun keterbatasan ilmu yang kami miliki kami mohon maaf jika mempunyai kesalahan dalam pengumpulan data referensi yang kami kumpulkan ini. Masalah 1. Apa definisi Akhlak? 2. Apa definisi Tasawuf? 3. Bagaimana untuk memahami tujuan dari akhlak dan tasawwuf? 4. Apa saja faidah dari mempelajari akhlak tasawwuf ? 5. Apa persamaan dan perbedaan antara Akhlak dengan Tasawuf ? 6. Bagaimana Hubungan antara Akhlak dengan Tasawuf? MK Akhlak Tasawuf 5 BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN DAN DEFINISI AKHLAK A. Pengertiannya Kata akhlak berasal dari bahasa arab yang sudah diindonesiakan, yang juga di ÙŒ َ†اَ Ù’ØØ§Ù„‬Adalah jama‟ Ta‟sir dari kata ÙŒ â€ ÙØØ ُØâ€¬. istilahkan perangai atau kesopanan. Kata â€Ù‚‬ Kata tersebut diatas , merupakan jamak taksir yang tetap, atau tidak dapat diubah ubah bentuknya dengan jama‟ taksir yang lain. Hal ini , berbeda dengan kata ÙŒ َ َ Unta bisa diubah ubah bentuk jamak taksirnya menjadi beberapa macam bentuk, Misalnya â€ÙŽ َمْج َ ٌا‬ â€Ù َ ٌا‬ ÙŒ َâ€Ù َ ا‬ ِ ÙŒâ€ÙŽÙŽ ا‬ ِ ÙŒ â€ÙŽÙŽ ا‬ ÙŒ â€ÙŽÙŽÙ…ْج‬ ِ ÙŒ َâ€ÙŽ ا‬ Dan ِ ÙŒâ€ÙŽØ§â€¬ Ahli bahasa arab sering menyamakan arti akhlak dengan istilah ٌ†اَاَمْج ُمُرَمْجوءَة‬, †اَادِÙيَمْج ُن‬, ٌ†اَ َاع َدة‬, †اَاØÙŽÙَمْجب ُع‬, ُ ÙÙŽâ€Ø§Ø§ÙŽ ÙŽÙØ³ ِجي‬ yang kesemuanya diartikan dengan akhlak,watak, kesopanan, perangai, kebiasaan dan sebagainya. Selanjutnya , Barmawie Umarie1 menguraikan pengertian sebagai berikut Asal kata akhlak adalah meervoud dari khildun yang mengandung segisegi persesuaian dengan kata khaliq dan makhluq. Dari sinilah perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara makhluk dengan khalik, serta makhluk dengan makhluk lainnya. 1 Pengarang buku Materia Akhlak, terbitan solo,1978. MK Akhlak Tasawuf 6 B. Definisi Akhlak Para Ulama Ilmu Akhlak merumuskan ilmu akhlak dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakan, antara lain a. Al-Qurtuby mengatakan Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab-kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadian. b. Muhammad bin „Ilan Al-Sadiqy mengatakan Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan yang baik, dengan cara mudah Tanpa dorongan dari orang lain . c. Ibnu Maskawaih mengatakan Akhlak ialah keaadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat, tanpa memikirkan lebih lama. d. Abu Bakar Jabir Al-Jaziri mengatakan Aklhak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang disengaja. e. Imam Al-Ghazali mengatakan Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan, tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama . Maka jika sifat tersebut melahirkansuatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma Agama, dinamakan akhlak baik . tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, dinamakan akhlak yang buruk. Imam A-Ghazali menekankan, bahwa akhlak adalah sifat yang teranam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik dan buruknya, dengan menggunakan ukuran ilmu pengetahuan dan norma Agama. MK Akhlak Tasawuf 7 Dari eberapa definisi diataas dapat ditarik definisi lain bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya. Maka gerakan refleks, denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat disebut akhlak , karena gerakan tersebut tidak diperintahkan dari unsur kejiwaan. Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia , pada dasarny bersumber dari kekuatan bathin yang dimilki oleh setiap manusia, Yaitu  Tabiat pembawaan , ialah suatu dorongan jiwa yag tidak dipengaruhi oleh lingkungan manusia, tetapi disebabkan oleh aluri dan faktor warisan sifat-sifat dari orang tuanya atau nenek moyangnya.  Akal – fikiran yaitu dorongan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan manusia setelah melihat sesuatu, mendengarkan, merasakan, dan merabanya. Alat kejiwaan ini , hanya dapat menilai sesuatu yang lahir yang nyata . Dorongan ini disebut dengan istilah Al- Aqlu.  Hati nurani yaitu dorongan kejiwaan yang hanya dipengaruhi oleh faktor intuitif wijdan . alat kejiwaan yang dapat menilai hal-hal yang sifatnya abstrak yang bathin . dorongan ini disebut Al- Bashirah. Karena dorongan ini mendapatakn ketereangan ilham dari Allah. Ketiga kekuatan kejiawaan dalm diri manusia inilah yang menggambarkan hakikat manusia itu sendiri. Maka konsep dalam pendidikan dalam islam , selalu memperhatika ketiga kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan seimbang sehingga terwujud manusia yang ideal Insal Kamil menurut konsepdi Islam. C. Akhlak dan Ilmu Akhlak Akhlak adalah suatu istilah Agama yang dipakai menilai perbuatan manusia, apakah itu baiak atau buruk, sedangkan ilmu Akhlak adalah suatu illmu pengetahuan Agama Islam, yang berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada manusia. MK Akhlak Tasawuf 8 D. Etika dan Moral Etika Ethos adalah kata Yunani yang bearti Adat, watak atau kesusilaan. Sedagkan Moral Mos yang jama‟nya Mores adala kata latin yang berarti adat atau cara hidup. a. Istilah Etika digunakan untuk mengkaji sistem nilai yang ada, oleh karena itu etika merupakan suatu ilmu. b. Istilah Moral digunakan untuk memberikan keritaria perbuatan yang sedang dinilai. Oleh karena itu moral bukan suatu ilmu, tetapi merupakan suatu perbuatan manusia. E. Jenis-jenis Akhlak a Akhlak baik /terpuji, yaitu perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain. b Akhlak buruk/ tercela yaitu perbuata buruk terhadap tuhan, sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain. TASAWUF A. Pengertian Tasawuf Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf, Harun Nasution misalnya menyebut kan lima hal yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu al-shuffah ahl-alshuffah,orang yang ikut nabi dari makkah ke madinah , saf barisan , sufi suci , shopos bahasa yunani hikmat , dan suf kain wol . Keseluruhan katakata ini bisa saja dihubungkan dengan tasawuf. Dari segi linguistik kebahasaan ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri yang pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia. Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantug pada sudut pandang yang digunakan masing-masing, selama ini aada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisika tasawuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang MK Akhlak Tasawuf 9 harus berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang bertuhan. Jika dilihat dari sudut pandang manusia yang terbatas maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT. Jika dilihat sudut pandang manusia yang harus berjuang maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agamadalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT,dan jika sudut pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran Para ahli dalam bidang tasawuf hampir sepakat mengatakan bahwa sulit untuk merumuskan pengertian tasawuf . diantara sebab utama terjadinya hal itu karena tasawuf merupakan refleksi diri dan pengalaman pribadi seseorang3. Sementara itu salah seorang Ulama asal minangkabau Hamka, juga mengemukakan pendapat yang senada. Menurutnya, arti tasawuf dan asal katanya menjadi pertikaian ahli logat atau bahasa, yaitu pertama, shafa yang berarti suci bersih, ibarat kaca. Kedua dari kata shuf yang berarti bulu binatang dibaca wol kasardan mereka tidak menyukai pakaian yang indah-indah. Ketiga berasal dari kata shuffah yang diasosiasikan kepada segolongan sahabat nabi yang menyisihkan dirinya di suatu tempat terpencil disamping mesjid nabi. Keempat berasal dari kata shufanah yaitu sebatang kayu mersik yang tumbuh dipadang pasir arab. Kelima, dari theosofie, yang berarti ilmu ketuhanan yang kemudian diucapkan oleh lidah orang arab sehingga berubah menjadi tasawuf. Asal kata kelima inilah menurut Hamka baru digunakan untuk zaman akhir ini dan oleh para ahli yang menganggap sufi bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahsa yunani yang diarabkan4 2 3 4 Abuddin nata, Akhlak tasawuf dan karakter mulia,jakartarajawali pers,2015. Ihsan Sanusi, Akhlak tasawuf,batusangkarSTAIN Batusangkar pres,2012, Hamka,tasawuf modern,Jakartapustaka panjimas,1990,h 12 MK Akhlak Tasawuf 10 B. Definisi Tasawuf. Para ulama tasawuf berbeda cara mamndang kegiatan tasawuf sehingga mereka merumuskan definisinya juga berbeda Ada definisi yang dikemukakan oleh para ahlinya 1. Shekh Muhammad Amin al-Kudri “Tasawuf adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ikhwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat2 terpuji cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan Laranganya menuju kepada perintahnya . 2. Imam Al-Ghazali mengemukakan pendapat Abu Bakar Al Kuttai. Tasawuf adalah budi pekerti ; barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, bearti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima perintah untuk beramal, karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan Nur petunjuk islam. Dan ahli zuhud yang jiwanya menerima perintah untuk melakukan beberapa akhlak terpuji karena mereka telah melakukan suluk dengan nur petunjuk C. Sejarah Kemunculan tasawuf Jika dilihat dari sudut pandang munculnya tasawuf , praktek dan substansi ajaran tasawuf sebenarnya sebenarnya sudah melembaga dalam setiap invidu para sahabat nabi dan akan lebih nyata lagi pada pribadi nabi Muhammad SAW sendiri. Munculnya tasawuf sebagai disiplin ilmu tasawuf tersendiri baru nampak setelah ia diperdebatkan sebagai satu istilah sekitar akhir abad kedua Hijriah 815 H yang dinamakan wol kasar atau shuf. 5 Mahjuddin, Akhlak Tasawuf.Jakarta Radar jaya offset, 2009 h. 65-67 MK Akhlak Tasawuf 11 Pakaian ini banyak digunakan para zahid muslim sebagai pembeda diri mereka dengan orang lain yang senantiasa memakai pakaian mewah. Dalam kondisi ini shuf/wol kasar merupakan simbol sebagai orang hidup fakir dihadapan Allah SAW. Dan sejarahnya zahid pertama yang menggunakanya adalah Abi Hasan Al Khuff H . Perwujudan tasawuf secara resmi ini yang terkesan terlambat tersebut dijadikan landasan kritik bagi oreantalis, bahwa tasawuf bukan muncul dari dunia islam melainkan kemunculannya dipengaruhi oleh berbagai diluar islam/tradisi kerohanian agama-agama lain. Terkaitan dengan rumusan akar kata tasawuf ini ,barangkali menarik dan penting menguntip pendapat Harun Nasution6, secara komprensif yang mengemukakan lima rumusan asal kata tasawuf, yaitu 1. Pertama ahl al shuffaah ,yang beararti orang yang ikut nabi hijriah dari mekah ke madinah yang merupakan refleksi keikhlasan seseorang meninggalkan harta benda demi kepentingan Allah dan Rasul-Nya. 2. Kedua Shaff yang bermakna saf pertama dalam sholat berjama‟ah yang mendapat kemuliaan dan pahala, begitu juga dengan kaum sufi dimuliakan Allah SWT dan diberi pahala yang berlimpah. 3. ketiga ;shufi ,yang bermakna bersih atau suci ,yaitu orang yang telah mensucikan dirinya dengan latihan-latihan riyadhah yang berat dan lama. 4. Keempat Shophos, dari bahasa yunani yang berarti hikmah, dimana orang orang sufi adlah orang-orang yang mendapat atau mempunyai hikmah. Dengan demikian seorang sufi merupakan gambaran kearifan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran. 5. Kelima dari kata shuff, yang berarti kain wol kasar yang senantiasa yang dipakai kalangan sufi sebagai simbol kesederhanaan, tidak mementing 6 Harun nasution. Falsafah dan mistisisme dalam islam, jakarta bulan bintang, 1995, MK Akhlak Tasawuf 12 kehidupan materialisme duniawi, sehingga tetap dalam tuntunan mengabdi kepada Allah SWT. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKHLAK DAN ILMU TASAWUF A. Persamaan Etika, Moral, dan Akhlak 1. Persamaan a. Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk. b. Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal 1 Objek yaitu perbuatan manusia 2 Ukuran yaitu baik dan buruk 3 Tujuan membentuk kepribadian manusia7 2. Perbedaan 1 Sumber atau acuan a. Etika sumber acuannya adalah akal b. Moral sumbernya norma atau adapt istiadat c. Akhlak bersumber dari wahyu 2 Sifat Pemikiran a. Etika bersifat filososfis b. Moral bersifat empiris c. Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan akal 3 Proses munculnya perbuatan 7 a. Etika muncul ketika ad aide b. Moral muncul karena pertimbangan suasana H. Husnan Malik SH. Esensi Tauhid Dan Syirik Dalam Islam. Dosen Metafisika UNPAB MK Akhlak Tasawuf 13 c. B. Akhlak muncul secara spontan atau tanpa Hubungan Manusia dengan Etika, Moral dan Akhlak Beberapa hari terakhir ini kita mendapat sajian fakta hukum yang mengenaskan dalam perjalanan Republik ini. Mafia hukum bertebaran dimanamana, bahkan sampai mencabik-cabik prosedur hukum yang telah dijalankan pemerintah. Makelar hukum yang biasa dikenal markus juga begityu perkasa merekayasa berbagai status hukum yang tak jelas duduk perkaranya. Akhirnya, aparat penegak hukum menjadi aktor yang merusak tatanan sistem hukum itu sendiri. Fakta hukum di Indonesia inilah yang sekarang menjadi keluh-kesah masyarakat. Bahkan masyarakat sekarang tidak sedikit yang apriori, bahkan tidak lagi percaya atas kasus perkara yang diajukan ke meja hijau. Karena hukum sudah dibeli oleh oknum tak bertanggungjawab. Kasus “cicak” versus “buaya” yang sampai sekarang belum usai adalah fakta empiric bobroknya penegakan hukum di Indonesia. Berangkat dari fakta inilah, menarik kalau kita menjelajah buku bertajuk “Etika dan Hukum; Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas”. Bertolak dari pemikirannya Thomas Aquinas, penulis melihat bahwa hukum pada dasarnya merupakan “peta jalan” menuju kebahagiaan. Hukum merancang atau memetakan arah yang harus diambil manusia dalam perbuatan, jika manusia ingin mencapai tujuan akhir yang dicarinya. Peta tersebut adalah hasil karya budi manusia, sebab sebelum peta itu dibuat terlebih dahulu orang harus memikirkan tujuannya dan jalan yang dapat menuntunnya kearah tujuan tersebut. Demikian juga arah dan tujuan hidup manusia. Dalam hal ini, hukum selalu merupakan perintah atau petunjuk akal budi yang mengatur perbuatan manusia menuju sasarannya, yakni kebahagiaanan kebaikan umum9 hlm. 243. Alam pandangan hukum kodrat, manusia akan secara alamiah membentuk dan mengoraganisir diri dalam membentuk tatanan sosial dan politik. Semua itu 8 Ibid 9 Sumaryono,Etika dan Hukum Yogyakarta kanisius,2006,h. 243 MK Akhlak Tasawuf 14 dilakukan manusia demi memenuhi kebutuhan hidup bersama berdasarkan kebaikan dan kesejahteraan umum. Sebenarnya, bagi Aquinas, dalam diri manusia sudah ada tiga aspek pengaturan yang ditetapkan. Yang pertama, berhubungan dengan aturan akal budi, karena semua perilaku dan perasaan kita harus diatur berdasarkan aturan akal budi. Kedua, berhubungan dengan aturan yang berasal dari hukum ilahi, yang dipergunakan untuk mengatur manusia dalam segala kehidupannya. Seandainya manusia menurut kodratnya harus hidup sendirian, dua aspek pengaturan ini sudah memadai, namun karena manusia menurut hukum kodratnya adalah makhluq politik dan makhluq sosial, maka diperlukan aturan ketiga, yakni manusia harus diarahkan untuk hidup selalu dalam hubungan dengan sesamanya. Independensi manusia dalam menegakkan hukum ini mendapat perhatian serius dari Aquinas. Karena setiap persona mempunyai substansi kehidupannya sendiri yang berperan sangat penting dalam penegakan sebuah hukum. Nilai-nilai dasar kemanusiaan sebenarnya sudah melekat dalam diri persona manusia. Kedudukan yang substansial ini dikarenakan, pertama, manusia adalah makhluq otonom dan unik; kedua, manusia adalah persona yang korelatif. Otonomi dan kebebasan adalah dimensi transedental manusia sebagai persona. Manusia juga memiliki kodrat rasional, sehingga manusia adalah makhluq yang “sadar diri” atau memiliki kemampuan untuk berbuat secara manusiawi. Sedangkan dalam kodrat substansial, manusia mampu untuk menghadirkan diri dan berkembang sebagai subjek yang otonom. Kodrat rasional yang substansial inilah yang membentuk pola etis kehidupan manusia. Karena dalam diri manusia terdapat kecenderungan pada kebaikan sesuai dengan kodrat yang juga berlaku untuk semua substansi, sedemikian rupa sehingga setiap substansi mengusahakan pelestarian keberadaannya sesuai dengan hekakat kodratnya. Dalam kaitan inilah, Aquinas menyatakan bahwa segala sesuatu yang diketahui hekaket tujuan akhir, memiliki hakekat baik. Pernyataan ini menjadi akar penjabaran Aquinas tentang teori moralnya. Karena makhluq rasional yang berakal budi, maka manusia haruslah MK Akhlak Tasawuf 15 “sadar diri” dalam posisinya sebagai makhluq. Dengan “adar diri” ini, manusia akan menjadi tuan atas perbuatannya. Tuan bagi perbuatan inilah yang mengantarkan manusia kepada hakekat kemanusiaanya, dan disitulah manusia dengan akal budinya berjalan dalam nilai etis moralnya dalam menjalankan kehidupan. Akal budi manusia akan menuntun manusia untuk menemukan wujud kebaikan dan keadilan yang didambakan. Akal budi menjadi asas pertama perbuatan manusia, dan hukum merupakan aturan dan ukurannya, yang sudah seharusnya hukum memang bersumber dari akal budi. Jika hukum disusun supaya dapat mengikat perbuatan manusia, maka hukum harus adil dan membimbing manusia menuju tujuan akhir, yakni kebaikan. Kebaikan dan keadilan akan membuka keharusan ketaatan moral untuk menjadikan hukum sebagai penegak tata social yang harmonis dan seimbang. Rasa kebaikan dan keadilan akan membingkai moralitas dalam penegakan hukum. Moralitas penegak hukum bisa ditegakkan dengan selalu mencerahkan akal budianya untuk terus “sadar diri” atas keberadaannya sebagai “tuan” atas perbuatan yang dijalankan. “Sadar diri” inilah yang menjadi pangkal tolak yang diajukan Aquinas dalam membingkai hubungan etika dalam penegakan hukum. Kesadaran diri manusia harus selalu diolah, karena bagi Aquinas, kesadaran diri merupakan potensi yang harus ditafsirkan secara kritis, sehingga akan melahirkan gagasan yang segar dan mencerahkan. Makhluq yang “sadar diri” pastilah akan membuka jalan baru kehidupan yang mencerahkan dan membahagiakan. Dalam konteks ini, fakta rusaknya penegakan hukum di Indonesia bisa ditafsirkan sebagai ambruknya nilai “sadar diri”, sehingga jatuhlah nilai dan hekakat hukum. Penegak hukum bukan lagi “tuan” atas perbutannya, tetapi “tuan” bagi kekuasaan, uang, dan 10 Ibid MK Akhlak Tasawuf 16 KEDUDUKAN AKHLAK DAN TASAWUF DALAM ISLAM SERTA HUBUNGAN KEDUANYA A. Kedudukan akhlak dalam islam Beberapa abad sebelum lahirnya agama islam disunia ini penuh kegelapan dengan runtuhnya peradaban manusia, yang sebenarnya diakibatkan oleh penyimpangan manusia dari agama tauhid yang telah dianut oleh leluhurnya, semenjak Nabi Adam As hingga Nabi Isa As. Ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi sejak awal hingga masa lahirnya agama islam selalu menjaga martabat kemanusiaan agar tidak mengalami penurunan yang berakibat menyamaai martabat kebinatangan. Tetapi apa yang dikhawtirkan oleh nabi2 betul-betul terjadi dikalangan manusia dimana mereka saling merusak dirinya dengan bermaacam kezaliman bahkan nabinya juga dimusuhi dengan dibunuh dengan alsan bahwa ialah yang menghalangi2 kebebbasan mereka melakukan hal-hal yang dikeendakinya. Untuk mengetahui kedudukan akhlak dalam islam maka perlu diuraikan bahwa ada tiga macam sendi islam 1. Masalah Aqidah, yang meliputi keenam macam rukun islam. 2. Masalah Syari‟ah, yang meliputi pengabdian hamba terhadap tuhannya yang dapat dilihat dalam rukun islam yang lima. 3. Masalah Ihsan, yang meliputi hubungan terhadap Allah SWT, terhadap manusia dan seluruh makhluk hidup didunia ini. B. Kedudukan Tasawuf Dalam Islam Telah disebutkan pembahasan dimuka , bahwa ajaran akhlak dan tasawuf terdapat dalam sendi ajaran ihsan, maka tasawuf itu sendiri merupakan pengalaman hamba yang melahirkan kebijakan rohani untuk mendapatkan ma‟rifah kepada Allah SWT. MK Akhlak Tasawuf 17 Mengenai kedudukan tasawuf dalam islam terdapat beberapa pendapat yang mengatakan, bahawa hal itu tidak termasuk bagian integral dari ajaran islam dengan mengmukakan argumentasi 1. Tidak terdapat satupun kata tasawuf dan sufi dalam Qur‟an dan Hadits 2. Banyak istikah tasawuf yang sering digunakan sufi yang tidak ditemukan oleh al qur;an dan hadis. 3. Timbulnya istilah tasawuf dan sufi beserta dengan ajarannya baru dikenal pada abad hijriyah. 4. Ajaran tasauf yang di amalkan oleh orang islam mirip dengan ajaran mistik yang telah diamalkan oleh umat terdahulu. Ajaran tasauf dalam islam,memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun iman dan islam yang sifatnya wajib,tetapi ajaran tasauf bersifat ulama tasauf sering menamakan ajaranya dengan istilah fadaiul aamal. Memang ajaran tasauf harus diakui bahwa tidak ada satupun ayat atau hadis yang memuat kata tasauf dan sufi, karena istilah ini baru timbul ketika ulama tasauf berusaha membukukan ajran itu. Uapaya ulama tasauf memperkenalkan ajranya lewat metode peribadatan dan istilah-istilah yang telah diperoleh dari pengalaman batinya, yang memang metode dan istlah itu tidak didapatkan ayatnya di dalam al qur,an dan hadis. Tetapi sebenarnya ciptaan ulama tasawuf tentang hal tersebut, di dasarkan pada al qur,an dan hadits dengan perkataan udhkuru atau fadhuru. Ulama tasawuf yang sering juga disebut ulama Al- Muhaqiqin membuat tatacara peribadatan unrtuk mencapai tujuan tasawuf berdasarkan konsepsi dan motivasi beberapa ayat Al-Qur‟an dan Hadits, yang artinya sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang kami kembalikan ketmpat yang serendah-rendahnya neraka . Dalam ayat pertama diterangkan bahwa manusia diciptakan sebaik-baiknya. Bahwa manusia diciptakan sebaik-baik kejadian, namun karna perbuatan manusia itu sendiri, maka Allah mengembalikannyakepada tempat yang hina. MK Akhlak Tasawuf 18 Ajaran tasawuf termasuk ke dalam ajaran islam yang tercakup dalam sendi ihsan, yang berfungsi memperkuat sendi Aqidah Keimanan dan sendi Shari‟ah. Maka sering kita jumpai pembagian tasawuf menjdai tiga macam, yaitu 1. Tasawuf Aqidah yaitu lingkup pembicaraan tasawuf yang menekankan maslah-masalah metafisis hal-hal yang ghaib , yg unsure unsurnya adalah keimanan kepada tuhan, seperti adanya malaikat, Syurga dan neraka dan sebagainya. 2. Tasawuf Ibadah yaitu tasawuf yang menekankan pembicaraan dalam masalah rahasia Ibadah Asraru Al Ibadah . disamping itu Hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu a Tingkatan orang-orang biasa Al-Awam sebagai tingkatan pertama. b Tingkatan orang-orang yang istimewa Al-Khawas sebagai tiingkatan kedua. c Tingkatan orang-orang yang Teristimewa atau yang luar biasa sebagai Khawas Al Khawas tingkatan yang ketiga. Kalau tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para Wali Al Aulia , sedangkan tingkatan ketiga dimaksudkan sebagai para nabi Al Anbiya‟ 3. Tasawuf Akhlaki yaitu tasawuf yang menenkankan pembahasan pada budi pekerti yang akan mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan dunia akhirat, sehingga di dalamnya dibahas beberapa masalah akhlak, antara lain a Bertaubat At-Taubah, yaitu keinsafan seseorang dari perbuatan yang buruk, sehingga ia menyesali perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik. b Bersyukur As-Shukru, yaitu berterimakasih kepada Allah dengan menggunakan segala nikmatnya kepada hal-hal yang dipertintahkannya. c Bersabar Ash-Sabru, yaitu tahan terhadap kesulitan dan musibah yang menimpanya. d Bertawakal At-Tawakkul, yaitu memasrahkan sesuatu kepada Allah SWT. MK Akhlak Tasawuf 19 e Bersikap iklas Al-Ikhlas, yaitu membersihan perbuatan dari riya sifat yang menunjuk-nunjukan kepada orang lain, demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA A. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf Para ahli ilmu Tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada 3 bagian yaitu tasawuf falsafi, tasawuf akhlaki dan tasawuf amali. Ketiga tasawuf ini memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan pendekatan rasio atau akal pikiran. Sedangkan tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli,tahalli dabn tajalli. Sedangkan tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliayah atau wirid. Tasawuf pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti sholat, puasa, haji, dzikir, dan lainnya. Ibadah yang dilakukan dalam rangka tasawuf itu erat hubungannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution mengetakan bahwa ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam al-Qur‟an dikaitkan dengan takwa dan takwa berarti melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi larangannya yaitu orang-orang yang berbuat baik dan jauh dari yang tidak baik. Inilah yang disebut denagn ajaran amar ma‟ruf nahi munkar. Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. B. HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF DALAM ISLAM Untuk mengetahui hubungan Akhlak dengan Tasawuf dalam islam, maka ada beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan keterangan; misalnya Ulama yang mengatakan bahwa akhlak itu merupakan pankal tolak tasawuf, sedangkan Tasawuf adalah batas akhir akhlak. MK Akhlak Tasawuf 20 Begitu juga halnya pernyataan Al-Kattaniy yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Gazali yang menyatakan hubungan yang sangat erat antara akhlak dengan Tasawuf yang dilukiskan dalam pernyataan yang berbunyi Artinya Tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atas mu dalam budi pekerti, maka berarti ia menyiapkan bekal atas dirimu dalam Tasawuf. Untuk memperkuat pemahaman tentang keseimbangan dunia dengan urusan akhirat yang harus diperhatikan oleh Islam, maka ada salah satu hadits yang menerangkannya ِ â€Ø§Ø­ َذ َمْجر َح َمْجذ َر َمْجاا ِر ٍئ َمْجَن ََيَُمْجو َ َغ ًدا ااروي ىف ااسنن‬ Ù‹ â€Ø§ َمْجع َم َمْج َع َم َ َمْجاا ِر‬ †َو َمْج‬, â€Ø¦ يَظُ ُÙÙ† َمْجَن اَ َمْجن ََيَُمْجو َ َبَ ًدا‬ â€Ø¹Ù† عمرو‬ Artinya Kerjakanlah sesuatu yang sama denganamalan seseorang yang tidak akan mati selama-lamany, dan lakukanlah sesuatu yang sama dengan perbuatan seseorang yang akan mati besok. Perawi hadits ini terdapat dalam Kitab Sunnah, yang bersumber dari „Amr. Ada dua macam pemahaman untuk yang terkandungan dalam hadits ini, yaitu 1. Mengandung pemahaman untuk menyeimbangan urusan dunia dengan akhirat, yang harus dilakukan dengan volume waktu dan tenaga yang seimbang. 2. Mengandung pemahaman tentang keharusan bersungguh-sungguh bila melakukan urusan dunia, dan berbuat dengan rajin bila mengerjakan urusan istirahat. 11 Mahjuddin. Akhlak tasawuf I.jakarta kalam mulia,2009 MK Akhlak Tasawuf 21 C. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang cara-cara mengesakan tuhan, selain itu ilmu ini juga disebut sebagai ilmu Ushul al-din, selain itu ilmu ini disebut juga ilmu aqa‟id atau keyakinan-keyakinan. Ilmu tauhid disebut juga ilmu kalam berarti ilmu yang membahas tentang kata-kata atau silat lidah dalam rangka mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tauhid dapat dilihat melalui analisi yaitu pertama dilihat dari segi objek pembahasannya, ilmu tauhid membahas masalah tuhan baik dari segi zat, sifat dan perbuatannya, ilmu tauhid akan mengarahkan manusia menjadi ikhlas dan keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia. Kedua dilihat dari segi fungsinya ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh terhadap subjek yang terdapat dalam rukun iman itu. Jika kita percaya allah bahwa allah memiliki sifat-sifat tuhan itu maka sebaiknya manusia meniru sifat tersebut dengan mengembangkan sikap kasih sayang dimuka bumi. Demikian juga jika seseorang beriman kepada malaikat maka hendaknya meniru sifat-sifat yang terdapat pada malaikat seperti jujur, tidak pernah durhaka,dan patuh terhadap perintah tuhan. Dengan cara demikian percaya kepada malaikat akan membawa kepada perbaikan akhlak yang mulia sebagai mana firman allah ï‚   ï‚ ïƒï¤ï²ï€¦ïµï² ïƒ¶ï€¯ïƒ¤ï€³ï¼ï‚¡ïƒ ïƒ¿ï’ï²ï€¦    ïï‚šï‚‰ï²ï€§ï‚¯ï‚»ï´ï‚ƒ  ïƒï³ïƒ£ï‚ƒ      ïƒïƒ¨ï´ï‚ƒ ï‚žï ïƒ—ï‚Šï€£ï¹ï‚‰ïƒï‚© ïƒ”ïƒ¢ï‚Ÿï¸ïƒïƒ ïƒï°ï³ï€³ïƒï‚´ï‚¯ï‚»ïï€½ï´ï‚ ïïƒ¶ï‚Žïï€½ï´ïƒ¦ MK Akhlak Tasawuf 22 Artinya “malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai allah terhadap apa yang diperintahkannyakepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya”Qs Al-Tahrim{66}6” ïƒïƒˆ  ïƒï€½ï‚‹ïƒï€¥ïµï‚ ïƒï‚ƒï¹ï‚‰ï³ï€¹ ïïƒŽï€©  ï ïƒï‚ ïƒ ïƒ¡ïƒïƒ¿ïƒ¹ï€½ï´ï‚ƒ  Artinya “Tiada suatu ucapannya yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirQs Qaaf{50}18” Selanjutnya beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Tuhan khususnya Al-Quran, maka secara akhlaki harus diikuti dengan upaya menjadikan AlQuran sebagai wasit, hakim serta imam dalam kehidupan dan diikuti dengan mengamalkan segala perintah yang ada dalam Al-Quran dan menjauhi apa yang dilarangnya. Firman allah yang artinya     ï´ï¢ï€¥ï¸ï€ ï ï¹ïŠïƒïªï€¹  ïƒï¯ïµï±ïƒ³ï‚™ïƒ©ï€¦ ï‚ ïƒ‰ïï±ïƒŸï‚™ïµï‚ ï‚’ïƒŽïƒ»  ï´ï¢ï€¥ï¸ï€ ïƒ´ï‚‰ï³ï€©ï‚©ï€¹  ï€£ïšï‚Žï‚ïƒï–ï¸ï€ ï‚©ï€¡ï€¤ï€£ ï€ï³ï‚Œïµï² Artinya “sesungguhnya telah ada pada diri rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu orang-orang yang mengharap rahmat allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut allah Qs Al-Ahzab{33}21. Ayat-ayat tersebut memberi petunjuk dan mengingatkan kepada manusia bahwa pada diri rasulullah sudah terdapat contoh akhlak yang mulia. Jika hal tersebut dinyatakan dalam Al-quran maka makudnya adalah agar diamalkan. Dengsn cara demikian beriman kepada para rasul akan menimbulkan akhlak yang mulia. Hal ini dapat diperkuat dengan cara meniru sifat-sifat yang wajib pada rasul yaitu sifat shidik, amanah, tabliqh dan fathanah. Jika semua itu ditiru MK Akhlak Tasawuf 23 oleh manusia yang mengimaninya, maka akan dapat menimbulkan akhlak yang mulia, dan disinilah letak hubungan Ilmu Akhlak dan Ilmu Tauhid. Rukun iman yang ke enam ternyata erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia. Dengan demikian, dalam rangka pegembangan Ilmu Akhlak, bahan-bahanya dapat digali dari ajaran tauhid atau keimanan tersebut. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu Akhlak dapat pula dilihat dari erat kaitan antara iman dan amal salih misalnya kit abaca ayat yang berbunyi   ï‚Ÿï ï‚§ïŽïƒ¨ï ïƒï‚ï´ï€¯    ï‚ ïƒï³ïƒ£ï‚ƒ ï‚Ÿï ï¹ï€ïƒŽïï€¯ïµï‚   ïï€ ïï€½ï¼ï‚¡ïƒ§ï‚„   ï€¥ï›ï ï´ï‚ï¹ï­ ïƒ¶ïŽïƒŽï¨ïƒ…ï‚¡ïƒ ïƒ¿ï’ï²ï€¦ Artinya “Maka demi Tuhan engkau, mereka belumlah dinamakan beriman, sebelum mereka meminta keputusan kepada engkau muhammad dalam perkara yang menjadi perselisihan diantara mereka, kemudian itu mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang telah engkau putuskan dan mereka menerima dengan senang hati. Qs AlNisa{4}65”  ïƒï‚ï´ï€¯  ï‚ ï‚ ï‚’ïï€¼ïƒŽï€©   ïƒï³ïƒŸïŠïƒ¸ï€¹ï€¤ï€£  ï´ï¢ï€¥ï¸ï€ ï€¤ï¹ïŠï‚¯ï’ïƒŽï€©    ï€ïƒï‚´ï‚¯ï‚»ï³ï€¹ï€§ï²ïƒ©ï€¦ïµï²  ïƒïƒ¨ï³ïƒ›ï²ï€¦ïµï² ïƒïƒ¨ïƒïŠï¹ï‚™ ï€¨ï€£ï±ïƒ¤ï€¹ï±ïƒ ï€©ï´ï‚ƒ Artinya “ucapan orang yang beriman itu, apabila mereka dipanggil kepada allah dan rasulnya untuk diputuskan perkara diantara mereka, hanyalah mengatakan “kami dengar dan kami patuhi”, dan itulah orang yang beruntung. Qs Al-Nur{24}51. MK Akhlak Tasawuf 24     ï‚ ï‚   ïƒï³ïƒŸïŠïƒ¸ï€¹ï€¤ï€£     ï€ïƒï‚´ï‚¯ï‚»ï³ï€¹ï€§ï²ïƒ©ï€¦  ï‚   ïƒ³ïïƒŽï§ïƒ…ï‚¡ïƒ ïƒ¿ï’ï²ï€¦ïµï²  Artinya “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada allah dan rasulnya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya dijalan allah. Itulah orang yang benar keimananya. Qs Al-Hujurat,{49}15. Ayat-ayat diatas memberi petunjuk dengan jelas bahwa keimanan harus dimanifestasikan dalam perbuatan akhlak dalam bentuk kerelaan dalam menerima keputusan yang diberikan nabi terhadap perkara yang diperselisihkan diantara manusia, patuh dan tunduk terhadap keputusan allah dan rasulnya, bergetar hatinya jika mendengar ayat-ayat allah dibacakan, bertawakal, melaksanakan sholat yang khusyu, berinfak dijalan allah, menjauhi perbuatan yang tidak ada gunakan, menjaga fajrinya dan tidak ragu-ragu dalam berjuang dijalan allah. Disinilah letak hubungan antara keimanan dengan pembentukan akhak. Ilmu Tauhid tampil memberikan landasan terhadap Ilmu Akhlak dan Ilmu Akhlak t ampil memberikan penjabaran dan pengamalan dari Ilmu Tauhid. Tauhid tanpa akhlak yang mulia tidak akan ada artinya, dan akhlak yang mulia tanpa tauhid tidak akan kokoh. Selain itu Tauhid memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap arahan tersebut. Disinilah letak nya hubungan yang erat dan dekat antara tauhid dan akhlak. MK Akhlak Tasawuf 25 D. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa Ilmu jiwa mengarah pembahasannya pada aspek batin manusiadengan cara menginterprestasikan prilakunya yang tampak. Melalui bantuan informasi yang diberikan oleh Ilmu Jiwa atau potensi kejiwaan yang diberikan al-Quran, maka secara teoritis Ilmu Akhlak dapat dibangun dengan kokoh. Dalam diri manusia terdapat potensi rohaniah yang cendrung kepada kebaikan dan keburukan. Potensi rohaniah ini dikaji dalam Ilmu Jiwa. Untuk mengembangkan Ilmu Akhlak kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan oleh Ilmu Jiwa. Selain itu dalam Ilmu Jiwa juga terdapat perbedaan psikologis yang dialami seseorang pada setiap jenjang usianya. Misalnya pada usia balita cendrung emosional dan manja pada usia anak-anak cendrung meniru orang tuanya dan bersikap rekreatif. Gejala psikologis seperti ini akan memberikan informasi tentang perlunya menyampaikan ajaran akhlak yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Dalam kaitan ini dapat dirumuskan sejumlah metode dalam menanamkan akhlak yang mulia. Dengan demikian Ilmu Akhlak dapat memberikan masukan dalam rangka merumuskan tentang metode dan pendekatan dalam pembinaan akhlak. E. Hubungan Ilmu Jiwa dengan Ilmu Pendidikan Semua aspek pendidikan ditujukan pada tercapainya tujuan pendidikan yaitu banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak. Tujuan ilsafat ependidikan islam yaitu terbentuknya seorang hamba allah yang patuh dan tunduk melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sert memiliki sifat-sifat dan akhlak yang mulia. Rumusan ini sangat jelas menjelaskan bahwa Ilmu Akhlak erat kaitanya pendidikan Islam. MK Akhlak Tasawuf 26 BAB III PENUTUP kesimpulan Pada pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa hubungan Akhlak tasawuf sangat perlu kita pelajari, karena hal ini membahas tentang tujuan tasawuf yaitu sebagai berikut 1. bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. 2. Lebih menetahui tentang Tasawuf, yang merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya. Keterkaitan ini kadangkadang dilihat dari persamaan objek, persamaan sudut pandang, persamaan sumber dan lain sebagainya. Saran Dengan pengetahuan tentang tasawuf ini diharapkan agar kita senantiasa bertindak dan berprilaku yang seimbang sesuai dengan ajaran yang ada dalam agama islam supaya kita bisa selamat dunia akhirat dan memperoleh kebahagiaan yang sejati. MK Akhlak Tasawuf 27 Daftar Pustaka 1. Abuddin nata, Akhlak tasawuf dan karakter mulia,jakartarajawali pers,2015. 2. Mahjuddin, Akhlak Tasawuf.Jakarta kalam mulia,2009 3. Harun nasution. Falsafah dan mistisisme dalam islam, jakarta bulan bintang, 1995 4. Husnan Malik. Esensi Tauhid Dan Syirik Dalam Islam. Dosen Metafisika UNPAB 5. Sumaryono,Etika dan Hukum Yogyakarta kanisius,2006 6. Mahjuddin. Akhlak tasawuf I.jakarta kalam mulia,2009 7. Barmawy Akhlak Solo Ramadhani,1990 8. Ihsan Sanusi, Akhlak tasawuf,batusangkarSTAIN Batusangkar pres,2012, 9. Hamka,tasawuf modern,Jakartapustaka panjimas,1990 MK Akhlak Tasawuf 28 Tasawufdalam pandangan mereka meru­pakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akhirat. Sementara itu, tasawuf- juga dengan metodenya yang tipikal -berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual Etika dan moral,41 sering disamakan dengan pengertian akhlak, demikian pula dengan ilmu akhlak dan Ethics. Juga ada yang berpandangan bahwa akhlak adalah Etika Islam. Akhlak, etika, atau moral sebagimana norma yang lain memiliki ukuran tersendiri, tetapi biasanya ukuran itu hampir tidak secara utuh sama antara satu dengan yang lainnya, baik secara individu maupun kolektif. Pada dasarnya etika punya visi universal dan seharusnya bisa diberlakukan bagi segenap manusia di setiap tempat dan waktu, namun ada kesukaran-kesukaran untuk mewujudkannya, karena ukuran baik dan buruk menurut anggapan orang sangatlah relatif. Hal ini tentu berbeda dengan akhlak yang kriterianya telah ditentukan secara gamblang dalam Alquran dan hadis. 36As’ad al-Sahmaraniy, Al-Akhlaq fi al-Islam wa Falsafah al-Qadimah Beirut Dar al-Nafais, 1993. 37Zaki Mubarak, Al-Akhlaq inda al-Ghazaliy, Kairo Al-Katib al-Arabiy li al-Tiba’ah wa al-Nasyr, tt. 38Abu Hasan al-Mawardiy, Adab al-Dunya wa al-din, Kairo Dar al-Fikr, 1966. 39Hasyim Asy’ari, Adab al-Alim wa al-Muta’llim fiy ma yahtaju Ilaih al Mu’allim fiy Ahwal Ta’allum wa ma Yatawaqqaf alaihi Mu’allim fiy Maqam al-Ta’lim, Jombang Tp. 2001. 40Badruddin Ibn Jama’ah, Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mu’allimin fi Adab al-Alim wa Muta’allim Hyderabat Dairat al-Mu’arif Usmaniyah, 1354. 41Permasalahan ini merupakan kajian yang sangat prinsip dan merupakan suatu yang amat penting. Bahkan dalam dalam pemaknaan etika dan moral melihat dari asal katanya, dalam kajian K. Bertens termasuk dalam kajian filsafat. Lihat, K. Bertens, Istilah etika Islam itu sendiri berasal dari istilah bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggeris akhlak etika Islam dipakai denga istilah Islamic Ethics. Judul buku yang dalamnya membahas persoalan akhlak Islam yang ditulis dalam bahasa Inggris antara lain berjudul Reason Tradisition in Islamic karya George F. Hourani42. Dan juga buku karya Azim Nanji sebagai yang diedit oleh Peter dalam buku A Companion to Ethics berjudul Islamic Ethics43. Kedua buku ini membentangkan dengan jelas tentang akhlak dalam Islam. Dalam hal ini nampaknya dalam bahasa Inggris istilah akhlak itu sendiri tidak ada kata yang konkrit, kecuali dalam pengertian yang hanya pendekatan makna yang kurang mencakup dan sempurna, karena makna etika sendiri ada perbedaan mendasar dengan akhlak. Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau Poerwadarminta mengartikan dengan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak moral45. Dalam hal ini dipahami, etika berhubungan dengan tingkah laku manusia. Istilah etika sebagai dikemukakan para ahli46 sesuai sudut pandang yang mereka gunakan. Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika dengan filsafat nilai dan kesusilaan tentang baik dan buruk. Etika adalah pengetahuan tentang Walau kelihatannya agak berbeda, namun pada dasarnya sama dengan akhlak. Menurutnya Ahmad Amin misalnya, akhlak adalah ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus ditempuh oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh 42George F. Houhani, Reason and Tradition in Islamic New York Cambridge University Press, 1985. 43Peter Singer, ed. A Companoin Tradition in Islamic New York Cambridge University Press, 1995. 44Lihat, Ahmad Charris Zubir, Kuliah Etika, Cet. II Jakarta Rajawali Press, 1980, 13. 45Lihat, Poerwadarminta, Kamus Besar, 278. 46Di antara bahasan etika dikemukakan oleh Franz Magnis-Suseno. Ia membahas lebih jauh etika dan ajaran moral dan oerbedaannya. Lebih jauh lihat, Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar Yogyakarta Kanisius, 1987, 14. 47Lebih jauh lihat, Soegerda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan Jakarta Gunung Agung, 1979, 82. 48Lihat, Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan Yogyakarta Taman Siswa, 1966, 138. Etika adalah termasuk dalam kajian filsafat moral,49 atau pemikiran filsafat tentang moralitas, problem moral, dan pertimbangan moral, yaitu sebuah studi yang sistematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik, buruk, benar, salah yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Dalam ini, paling kurang ada empat segi yang dapat digunakan untuk mengetahui etika, yakni melihat dari segi obyek pembahasannya, sumbernya, fungsinya dan terakhir dilihat dari segi sifatnya. Dilihat dari segi pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan bila dilihat dari segi sumbernya, maka etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Oleh karena itu sebagai sebuah produk pemikiran, ia tidak bersifat mutlak dan tidak absolut, kebenarannya tidak universal. Dilihat dari segi fungsinya, etika sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Ia berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku manusia. Karena etika sebuah konsepsi dan hasil produk pemikiran, maka dilihat dari sifatnya ia dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntunan zaman dan keadaan, humanistis dan antroposentris. Istilah lain dari akhlak adalah moral50. Moral dapat diartikan sebagai pengungkapan dapat tidaknya suatu perbuatan atau tindakan manusia diterima oleh sesamanya51 dalam hidup bermasyarakat. Frans Magnis Suseno menjelaskan kata moral selalu mengacu kepada baik buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia52. Sedangkan norma adalah petunjuk tinkah laku yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan manusia, sedangkan nilai itu sendiri terbentuk atas dasar cipta, rasa, dan karsa. Apabila suatu norma berdasarkan dan bersumber kepada agama, maka moral itu dinamakan moral keagamaan. Apabila moral itu sama sekali tidak menghiraukan agama sehingga tidak 49Lebih jauh bahasan tentang etika Islam memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai ilmu lainnya, bahkan etika berhubungan pula dengan problema kebahagiaan, berhubungan dengan akal, berhubungan dengan pengobatan metal dan psykologi. Lihat, Mulyadhi Kartanegara, Nalar Relegius Jakarta Erlangga, 2002, 46-54. 50Moral secara bahasa adalah perbuatan baik buruk terhadap perbuatan manusia. Lihat, Poerwadarminta, Kamus Besar, 278. 51Lihat, Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat,51. 52Franz Magnis Suseno, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral Yogyakarta Kanisius, 1987, 18-20. mengenal ajaran Tuhan dan kehidupan akhirat, hanya keduniawian saja, maka moral itu disebut moral sekuler. Dalam kaitan ini ada juga istilah yang disebut moral zuhud53, yang merupakan moral keagamaan, namun menitikberatkan kepada kehidupan akhirat, bahkan menjauhi kehidupan duniawi. Antara moral agama pun akan berbeda dalam beberapa hal berdasarkan agama tertentu yang menjadi sumbernya. Dari tradisi agama ini ada yang bertuhan satu dinamakan monotheistik, dan ada yang bertuhan banyak dinamakan politheistik. Para pemeluk agama juga punya tata cara beritual dan beribadah masing-masing penganutnya. Dalam tasawuf Islam akhlak memiliki kekuatan akhlak yang sangat ketat54. Orang tidak dapat melarikan diri dari pertanggungjawaban moral karena Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang dikerjakannya, baik secara terang-terangan maupun Manusia yang berdosa tidak dapat terlepas dari pembalasan Tuhan, meskipun kemungkinan terlepas dari pembalasan hukum masyarakat dan Negara. Menurut Islam, tidak ada dosa yang bisa ditebus, kecuali dengan taubat56. 53Moral zuhud di sini dimaksudkan adalah kehidupan yang dijalani oleh sufi yang bahasannya dikemukakan dalam bahasan berikutnya. 54Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan ada delapan pilar tasawuf yang harus dijalankan dalam upaya mencari ridha Allah. 1. Al-Sakha’, mengedepankan contoh Nabi Ibrahim as sebagai kekasih Allah. 2. Al-Ridha, menjadikan Nabi Ismail sebagai panutan yang rela mengorbankan jiwanya mematuhi perintah melalui ayahnya Ibrahim As.. 3. Al-Sabr, menjadikan contok kesabaran Nabi Ayyub yang mendapatkan pujian langsung dari Allah. Sad44. 4. Al-Isharah, dapat memahami symbol-simbol yang terdapat dalam ajaran Allah dan RasulNya sebagaimana yang terjadi pada diri Zakariya yang langsung memahami apa yang terjadi pada Maryam. 5. Al-Gharbah, dapat menjauhkan diri dari keramaian manusia. 6 Menjadi orang pilihan sebagai sifat Nabi Musa ibn Imran. 7. Al-Sihayah, Perjuangan berat yang biasanya dijalani oleh para sufi. 8. Al-Mutasawif, senantiasa dalam usaha dan selalu bermujahadah kepada Allah dengan melepas segala sifat-sifat hayawaniyah lalu mengisinya dengan sifat-sifat Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, 361. 55Lihat, Abdulqadir al-Jailani, Al-Fathu al-Rabbaniy, Majlis al-Tasi’ wa Khamsun, 207. 56Syarat-syarat taubat itu adalah memohon ampun kepada Allah Swt dengan banyak membaca istighfar, menyesal atas dosa yang telah dilakukan, berjanji tidak akan mengulangi lagi dosa tersebut, dan percaya bahwa Allah Maha Pengampun. Jika berdosa kepada sesama manusia, sabaiknya kita meminta maaf kepadanya secara langsung. Ajaran moral Islam samasekali tidak memusuhi kehidupan duniawi, selama ajaran itu tidak bertentangan dengan doktrin Islam. Namun juga harus hati-hati agar tidak masuk ke wilayah shubhat. Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya halal dan haram itu telah jelas dan di antara keduanya ada beberapa shubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Oleh karena itu barang siapa menjauhi shubhat, sesungguhnya dia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya; dan barang siapa masuk ke wilayah shubhat, dikhawatirkan akan jatu ke dalam haram sebagaimana penggembala di dekat lobang, dia bisa jatuh ke dalamnya. Ketahuilah batasan Allah ialah Di antara perbedaan moral dengan etika. Moral mengandung prinsip nilai,58 dan norma yang immanen menggejala dalam masyarakat. Nilai ini mungkin bersifat transedental. Sedangkan etika59 tidak, hanya mengungkapkan nilai-nilai yang immanen saja. Bermacam-macam nilai,60 yaitu nilai material, nilai vital, dan nilai keruhanian. Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia, secara relatif lebih mudah diukur dengan alat-alat pengukur, misalnya berat, panjang, luas, isi dan sebagainya. Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan dan aktivitas. Sedangkan nilai kerohanian yaitu segala sesuatu yang berguna bagi ruhani manusia, misalnya nilai religius, keindahan, nilai moral yang berasal dari kodrat manusia, dan nilai kebenaran yang bersumber pada unsur akal manusia. Nilai yang terakhir ini tidak dapat diukur menggunakan alat-alat pengukur nilai-nilai material, tetapi hanya bisa diukur dengan akal budi dan hati nurani manusia. Secara singkat, nilai kerohanian dapat dikatakan sebagai hasil pertimbangan baik atau buruk terhadap sesuatu yang 57Hadis sahih, antara lain dapat dilihat dalam Kitab Muslim, Sahih Muslim, Juz 8, bab akhdzu al-halal wa tark shubhat, 290. 58 Nilai itu antara lain didefinisikan dengan standar atau ukuran yang digunakan untuk mengukur sesuatu. Lihat, Fuad Farid dan Abdulhamid Mutawalliy, Mabadi’ al-Falsafah wa al-Akhlaq Kuwait Wizarah al-Tarbiyyah, 1978, 197. 59Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah lakunya dilihat dari segi baik buruknya. Etika bertugas memberi jawaban atas pertanyaan, seperti atas dasar hak apa orang menuntut kita tunduk terhadap norma-norma yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan dan sebagainya. Lihat, Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etik Jakarta Prenada Media, 2005, Cet. Ke 2, 59. 60Teori nilai merupakan kerangka ketiga dalam tiga kerangka besar filsafat, yaitu teori pengalaman, teori hakikat dan teori nilai. Lebih lanjut lihat, Juhaya S. Praja, kemudian dipergunakan sebagai dasar alasan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukannya. Adapun norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan berdasarkan suatu alasan tertentu dengan disertai sanksi, yaitu ancaman atau akibat yang akan diterima apabila norma tidak dilakukan. Sanksi agama dari Tuhan61, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam norma kesusilaan, sanksinya berupa rasa malu dan menyesal dari diri seseorang, dalam norma sopan santun ada sanksi sosial dari masyarakat, sementara dalam dalam norma hukum ada sanksi dari pemerintah. Penerapan nilai-nilai selalu bergantung kepada norma yang dianut oleh masing-masing individu ataupun masyarakat62. Moral secara etimologi berasal dari bahasa latin mores yakni bentuk jamak dari kata mos yang mempunyai arti adat kebiasaan. Selain itu, moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan manusia63. Moral secara terminologi adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Pengertian moral ini bisa dimaknai dengan prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar, salah, baik dan buruk; kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar, salah, baik dan buruk; dan ajaran 61Sanksi dari Tuhan dimaksudkan adalah azab siksa yang diterima oleh seseorang yang melanggar hukum agama. Dalam kajian kalam terjadi perdebatan yang cukup dalam tentang ini yaitu menyangkut wa’ad dan wa’id. Masalah ini dibahas dalam persoalan-persoalan teologi Islam. Lihat antara lain, Harun Nasution, Teologi Islam. Jakarta UI Press, 1983. Juga Muhammad Ibn Abdulkarim, Muhammad Ibn Fathullah al-Badran Shahrastani, Ed, Kitab al-Milal wa al-Nihal, Kairo, tt. 62Dalam kasus zina misalnya, sanksinya bisa berbeda-beda suatu antara satu Negara Negara dengan lainnya. Tentang zina Amerika serikat memandangnya sebagai free sex sedangkan Indonesia mempunyai pandangan yang berbeda. Begitu juga berbeda lagi dengan hokum Islam dalam merespons kasus zina tersebut. atau gambaran tingkah laku yang Maka yang dimaksud dengan orang yang bermoral adalah orang bertingkah laku baik dan benar. Dapat dikatakan bahwa antara etika dan moral adalah sama, yakni sama-sama membahas tentang perbuatan manusia dan Tetapi walaupun demikian ada beberapa yang berbeda antara etika dan moral yakni jika moral atau moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai. Tolok ukur yang digunakan pun berbeda, jika moral tolok ukurnya adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang di masyarakat,66 sedangkan etika tolok ukurnya adalah rasio atau akal pikiran, karenanya etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam dataran konsep-konsep. Menurut Quraish Shihab antara akhlak da etika tidak dapat disamakan, karena jika etika dibatasi dengan sopan santun antara sesama manusia dan hanya berkaitan dengan perbuatan lahiriah. Sedangkan akhlak lebih luas maknanya dan cakupannya tidak hanya yang sifatnya lahiriah semata, tetapi ia meliputi hal yang sifatnya batiniah dan pikiran. Akhlak agama mencakup berbagai aspek, meliputi akhlak terhadap Allah hingga kepada sesama makhluk, baik yang bernyawa maupun yang tidak Antara etika, moral dan akhlak memiliki segi-segi persamaan dalam perbedaannya, tetapi tetap menunjuk kepada perilaku 64Persoalan moral sering didahului oleh kata kesadaran. Kesadaran moral didasarkan atas nilai-nilai yang benar-benar esensial dan fundamental serta merupakan faktor penting untuk memungkinkan tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila sesuai dengan norma yang berlaku. Kesadaran moral erat kaitannya dengan hati nurani. Moral mencakup tiga hal, yakni pertama, rasional-obyektif yaitu perbuatan yang secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Obyektif berarti dapat dilakukan secara universal, dapat disetujui dan berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada pada situasi yang sama. Kedua, punya punya dimensi kebebasan. Di sini, seseorang bebas untuk taat, menentukan pilihan, dan bertindak. Ketiga, ini yang utama adalah perasaan atau keharusan dari seseorang melakukan tindakan yang bermoral, sehingga dia siap menghadapi siapa saja yang mencoba menghalanginya. 65Lihat, M. Said, Etika Masyarakat Indonesia Jakarta Pradnya Paramita, 1976, 23. 66Lihat, Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, 982. 67Muhammad Quraish Shihab, Wawasan al-Quran Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung Mizan, 1996, 261. 68Keterangan sesuai dengan pengertian, Etika pada umumnya diidentikkan dengan moral atau moralitas. Namun meskipun sama terkait dengan baik-buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian. Secara singkat, jika Dalam khazanah pemikiran Islam, etika bersama-sama dengan politik dan ekonomi bisa dimasukkan ke dalam apa yang disebut sebagai filsafat praktis al-hikmah al-amaliyah. Filsafat praktis itu sendiri berbicara tentang segala sesuatu “sebagaimana seharusnya”. Walaupun demikian, ia mesti didasarkan pada filsafat teoretis al-hikmah al-nazariyah, yaitu pembahasan mengenai segala sesautu sebagaimana adanya, di dalamnya termasuk metafisika. Dari uraian di atas dapat dipahami, antara akhlak, etika dan moral mempunyai nuansa perbedaan sekaligus memiliki kaitan erat. Kesemuanya punya sumber dan titik berat yang beragam yaitu wahyu, akal dan adat kebiasaan. Akal dapat digunakan untuk menjabarkan wahyu. Agama melibatkan penggunaan akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak Sesuatu yang oleh orang Islam dipandang baik, maka dalam pandangan Allah pun baik pula. Dalam kaidah ushul fiqih juga dikenal istilah al-urf, yakni adat kebiasaan yang berkembang di masyarakat, juga istilah jalb al-masalih wa dar’al al-mafasid, yakni menarik manfaat dari yang membawa kebaikan, dan meninggalkan yang membawa kerusakan. A PENGERTIAN TASAWUF AKHLAKI, IRFANI DAN FALSAFI. 1. Tasawuf Akhlaki. Kata "Tasawuf " dalam bahasa arab berarti membersihkan atau saling membersihan. Kemudian "akhlak" juga berasal dari bahasa arab yang artinya perbuatan atau penciptaan. Konsep ajaran akhlak menurut Islam adalah menuju perbuatan amal shaleh.
Ibnu Maskawaih mengidentikkan antara akhlak dan karekter, keduanya adalah merupakan keadaan jiwa, demikian juga Imam Ghazali mengibaratkan akhlak sebagai gerak jiwa seseorang serta gambaran batinnya. Dari kedua pengertian yang diberikan oleh kedua pakar ilmu akhlak ini bahwa akhlak sebagai suatu aktifitas yang muncul dari dorongan jiwa dan gerak batin seseorang sehingga baik dan buruk karakter, kepribadian, sikap dan tingkah laku seseorang yang telah menjadi tabiat sehari-hari yang dikerjakan dengan kesadaran dan tanpa pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu berkait erat dengan jiwa dan batin seseorang, sehingga jelaslah bahwa akhlak merupakan bagian penting didalam ajaran agama, karena itu wajar kalau justru fungsi keseluruhan Nabi pembawa agama adalah untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana peringatan beliau Sesungguhnya Allah mengutus saya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan memperbaiki perbuatan yang baik.[1] Karena keduanya akhlak dan agama Islam keduanya membahas dan mengupayakan bagaimana jiwa seseorang menjadi baik dan sempurna dengan membuahkan suatu pola piker, sikap dan tingkah laku shaleh, dengan keharmonisan dan keselarasan yang sempurna tanpa adanya kamoplase penipuan, kemunafikan disharmonisasinya antara batin dan jiwa, dengan prilaku, misalnya hatinya baik perilakunya jelek, atau sebaliknya perilakunya baik tetapi keluar dari jiwa dan niatan batin yang jelek, baik karena kebodohan maupun karena kejelekan jiwa. Sehingga akhlak terkait erat dengan keimanan yang sama-sama berpangkal didalam hati seseorang bahkan menurut Nabi Muhammad orang yang terbaik keimanannya adalah orang yang baik akhlaknya ketinggian budi pekerti yang muncul dari gerakan jiwa yang suci. Seperti pernyataan Nabi Sempurna-sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang terbaik akhlaknya.HR. Tirmidzi. [2] Dalam bahasa agama Islam kata yang orang menyebut budi pekerti , perilaku, karakter dll, itu didalam islam diambil dari bahasa arab Yang kesemuanya berarti menciptakan, pencipta, ciptaan dan akhlak perilaku untuk mencipta atau buah dari ciptaan. Sehingga dalam islalm yang disebut dengan akhlak tidak hanya mempunyai sasaran antara manusia dengan manusia, tetapi yang dimaksud akhlak mempunyai sasaran yang sangat luas, akhlak antara manusia dengan manusia, manusia dengan Al-Khaliq dan manusia dengan sesama makhluk selain manusia, termasuk binatang, tumbuhan dan lingkungannya. B. Arti dan Pengertian Tasawuf Tasawuf sufi adalah suatu kata istilah atau nama yang muncul jauh dari masa Nabi 2 abad setelah Nabi, yang pertama kali dimunculkan oleh seorang zahid Abu Hasyim Al-Kufi wafat 150 H, [3] untuk suatu kelompok orang Islam yang mengkonsentrasikan dirinya pada kehidupan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dengan berbagai cara dan upaya. Kata tasawuf berasal dari kata shuffah, yang menurut etimologi dengan pendekatan historis berasal dari kata ahli. Shuffah ialah orang-orang yang ikut pindah atau hijrah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, dan karena hartanya ditinggalkan, mereka berada dalam kehidupan miskin dan tak mempunyai apa-apa.[4] Mereka tinggal di masjid Nabi dengan selalu memakai pelana kuda " suffah " sebagai bantalnya sehingga disebut " Ahli Shuffah " adalah kelompok kaum muslimin yang miskin tetapi mereka berhati mulia, tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia, itulah
Tokohtasawuf pada fase ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) atau yang lebih dikenal dengan al-Ghzali. d. Fase Abad VI Hijriyah sampai ke IX Hijriah dan sesudahnya. Fase ini ditandai dengan munculnya tasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa ( dzauq ) dan rasio ( akal ), tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat
Sebagaimanadiketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah sangat meninjol, karna bertasawuf itu pada hakikat nya melakukan serngkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll, yang semuanya itu uantuk mendekatka diri kepada Allah . ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak.
QdFIgR2.
  • dyg2kpy44d.pages.dev/319
  • dyg2kpy44d.pages.dev/267
  • dyg2kpy44d.pages.dev/265
  • dyg2kpy44d.pages.dev/351
  • dyg2kpy44d.pages.dev/322
  • dyg2kpy44d.pages.dev/80
  • dyg2kpy44d.pages.dev/160
  • dyg2kpy44d.pages.dev/207
  • dyg2kpy44d.pages.dev/374
  • perbedaan akhlak dan tasawuf